STOP Bilang Indonesia Negara Tersmiskin ke 2, Selama Ada Rakyat Anti KOL 5



Ilustrasi: Kesenjangan antara narasi 'Indonesia Emas' dengan realita ekonomi rakyat saat ini. (Dok. Hucer Indo)Ilustrasi: Kesenjangan antara narasi 'Indonesia Emas' dengan realita ekonomi rakyat saat ini. (Dok. Hucer Indo)

HucerIndo.my.id - Halo Sobat Hucer!

​Hari ini saya membaca tiga berita sekaligus yang bikin kepala geleng-geleng. Tiga kabar yang rasanya menampar logika sehat kita sebagai rakyat jelata. Semuanya tidak jauh-jauh dari masalah "Duit", uang dan Dolar Hijau.

  1. ​Ekonom melalui kompas.com memprediksi Negara berpotensi gagal bayar hutang (Kredit Macet/KOL 5).
  2. ​Laporan Bank Dunia  (World Bank) melalui MSN.com menyebut Indonesia peringkat ke-2 penduduk termiskin di dunia.
  3. ​Artikel di Kuncipro.com membahas realita di lapangan: rakyat yang sudah masuk KOL 5 (Macet) di SLIK OJK hidupnya setengah mati.

​Tiga berita ini membentuk siklus setan: 

Kemiskinan melahirkan hutang, dan hutang rawan macet jika kita terus-terusan miskin.

Paradoks Negara Kaya vs Rakyat Miskin

​Jujur, saya merasa Bank Dunia terlalu berlebihan jika bilang Indonesia Negara Termiskin ke-2. Kenapa?

​Coba pakai logika "pos ronda". Lihat jalanan kita. Macet di mana-mana oleh mobil dan motor keluaran terbaru. Kalau kita semiskin Zimbabwe, logikanya jalanan akan penuh sepeda onthel atau becak seperti tahun 80-an.

​Bahkan ada pejabat yang pede bilang ekonomi kita bagus cuma karena tiket acara stand-up comedy seharga Rp 1 Juta ludes terjual. Pernyataan ini tidak salah, tapi kurang tepat. Yang beli tiket itu mungkin cuma 1% dari 280 juta penduduk. Sisanya? Masih mikir besok makan apa.

Poin penting saya: Kita harus bedakan antara Kekayaan Negara dan Kesejahteraan Rakyat.

​Negara kita ini KAYA RAYA. Sumber daya alam melimpah, pajak ditarik terus. Buktinya apa? KORUPSI

Hakikatnya, korupsi hanya bisa terjadi besar-besaran di tempat yang uangnya melimpah ruah.

​Jadi, saya tidak setuju jika disebut Negaranya miskin. Tapi saya sangat setuju jika dibilang Rakyatnya banyak yang miskin.

​Lalu, bagaimana dengan peringatan Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, soal potensi Negara gagal bayar utang (menuju KOL 3 bahkan KOL 5)?

​Ah, saya rasa itu tidak perlu dikhawatirkan berlebihan. Ekonom itu mungkin lupa kalau Negara punya "mesin uang" bernama rakyat. 

Kalau Negara kurang duit bayar utang, tinggal naikkan pajak (PPN 12% sudah di depan mata, kan?). Biarkan rakyatnya yang susah, yang penting status kredit Negara tetap Lancar (KOL 1) di mata investor global.

​Mari kita bedah tiga masalah utama ini dengan akal sehat:

1. Juara 2 Termiskin Dunia? Kok Data BPS Beda? 😱

​Katanya mau Indonesia Emas 2045, tapi data Bank Dunia bikin kita elus dada. Berdasarkan standar kemiskinan internasional (pendapatan di bawah US$ 2,15 atau sekitar Rp 10.000 per hari), Indonesia menempati peringkat ke-2 penduduk miskin terbanyak.

​Loh, kok beda jauh sama data BPS kita? Ini kuncinya:

  • Versi BPS (Lokal): Standar garis kemiskinan sekitar Rp 550.000/bulan. Hasilnya: "Cuma" 25 Juta orang miskin.
  • Versi Bank Dunia (Global): Standar internasional lebih tinggi dan realistis. Hasilnya: Lebih dari 100 Juta orang hidup di jurang kerentanan (Rentan Miskin).

​Komentar netizen di media sosial pun langsung menyambar pedas realita ini:

"Klo korupsinya peringkat brp min?" - @apunk_gelapunk

"Termiskin No 2 dan Terkorup No 1. Penduduknya miskin, kan yang kaya pemerintahannya," - @nsupriyono74


2. Sinyal Bahaya: Utang Numpuk, Bunga Mencekik 📉

​Kalau rakyatnya pusing mikirin harga beras, pemerintahnya pusing mikirin bayar utang.

​Pemerintah sering menenangkan kita dengan bilang rasio utang masih "Aman" di bawah 60% PDB. Tapi coba lihat fakta ngerinya dari sisi pendapatan:

  • Rasio Utang vs Pendapatan Tembus 350%! Ibarat gaji Anda cuma 5 Juta, tapi total utang Anda 17,5 Juta. Pusing nggak tuh ngatur cicilannya?
  • Bayar Bunga Doang Setengah Kuadriliun! Tahun 2025 nanti, uang negara yang dipakai cuma buat bayar BUNGA UTANG (belum pokoknya) mencapai Rp 514 Triliun.
  • Gali Lobang Tutup Jurang: Pendapatan negara sudah nggak cukup buat bayar bunga. Akhirnya? Harus ngutang baru lagi cuma buat bayar bunga utang lama.

​Kalau ini terjadi pada keuangan pribadi manusia biasa, statusnya bukan lagi "Lancar", tapi sudah masuk KOL 2 (Dalam Perhatian Khusus) menuju macet!

3. Analisis: Beda Nasib Saat Rakyat vs Negara yang "Macet"

​Merujuk pada analisis dari KunciPro Research Institute—portal yang fokus pada edukasi hukum dan data properti—ada ironi yang lucu tapi miris soal fenomena kredit macet (KOL 5) ini.

​Nasib kita beda jauh dengan Negara:

👉 Jika Rakyat Kecil Masuk KOL 5 (Macet):

  • ​Dikejar Debt Collector lapangan siang malam.
  • ​Dipermalukan di depan tetangga dan saudara.
  • ​Masuk daftar hitam SLIK OJK, mau kredit panci pun ditolak. Hidup jadi serba salah.

👉 Jika Negara yang "Macet" atau Gagal Bayar:

  • ​Siapa yang berani nge-BI Checking-in Negara? Tidak ada.
  • ​Solusinya? Beban dialihkan ke rakyat. Pajak dinaikkan, subsidi BBM/Listrik dicabut, atau aset negara (BUMN) digadaikan.
  • Teorinya? Negara menganut madzhab subsidi silang, Mereka yang hutang dan belanja eh kita yang harus urunan bayar.

​Jadi, kalau ada netizen yang bilang, "Selamat, Negara berhasil memiskinkan rakyat dengan beban hutang menggunung," mungkin ada benarnya. Ujung-ujungnya, punggung rakyat juga yang harus menanggung beban salah urus keuangan negara.

KESIMPULAN: Indonesia Emas atau Cemas?

​Negara kita memang BELUM KOL 5 secara teknis. Tapi dengan predikat "Rakyat Termiskin ke-2" dan rasio utang yang bikin ekonom senam jantung, kita wajib waspada.

​Jangan sampai cita-cita luhur Indonesia Emas 2045 malah berubah jadi Indonesia Cemas 2045 gara-gara warisan utang yang harus dibayar anak cucu kita nanti.

​Gimana menurut kalian, Sobat Hucer? Masih optimis atau sudah mulai siap-siap kencangkan ikat pinggang?

Tim Redaksi Hucer Indo

Menyajikan fakta pahit dengan bahasa santai.

Est. 2016

Referensi Data & Analisis: Kompas.com, Data World Bank, & KunciPro Research Institute (Pusat Data Hukum & Properti).