Apakah AdBlock Ilegal? Simak Analisis Hukum Kenapa Setara Dengan Maling


Ilustrasi sisi gelap dimana robin hood disandra oleh adbloker

Ilustrasi: Sisi gelap di mana 'Robin Hood' disandera oleh AdBlocker. (Sumber: Dok. KunciPro)

🎧 Males Baca Jangan SKIP, Sini Biarkan Asisten Kami yang membacakan untuk anda:

Logo KunciPro

SPESIAL REPORT: KOLABORASI RISET

Analisis bersama Tim Hucer Indo & KunciPro Research Institute.

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H. | Founder KunciPro.com

HucerIndo.my.id - Halo Sobat Hucer! 👋

Jujur aja deh, siapa di sini yang HP-nya dipasangi AdBlock? Atau browser-nya pakai fitur "Anti-Iklan"?

Pasti alasannya klasik kan: "Iklannya ganggu, Gan!", "Bikin lemot!", "Boros kuota!"

Ada benarnya juga dan dulu kami pun berpikir demikian. Tapi hanya kepikiran saja, seumur-umur belum pernah pakai yang namanya AdBlock. Bukan karena gaya-gayaan, tapi saya rasa itu tidak mencerminkan asas keadilan.

Kita merasa heroik seperti Robin Hood. Kita memblokir iklan dari perusahaan raksasa (Google/Facebook/BigTech) demi kenyamanan pribadi. Rasanya seperti perlawanan rakyat kecil melawan kapitalisme global.

TAPI MAAF, KITA SALAH BESAR! 🚫

Barusan Tim Riset Hucer Indo bersama Tri Lukman Hakim, S.H. (KunciPro) selesai melakukan audit investigasi mendalam dalam bentuk jurnal yang dipublish secara akademis. Dan hasilnya bikin merinding.

Ternyata, kelakuan kita yang sok-sokan "Robin Hood" itu justru MEMBUNUH kreator kecil, blogger independen, dan jurnalis warga yang selama ini kasih kita info gratisan.

"Dulu kita mau baca berita harus beli koran dulu di lampu merah atau pinggir jalan raya, itupun kadang males beli walau harganya cuma 5.000 perak. Sekarang kita bisa nikmati berita gratis kapan aja dan di mana saja, tapi malah pakai AdBlocker?"

Parah sih kalau dipikir-pikir lagi. Maunya dapat berita yang aktual tapi lihat iklan aja ogah-ogahan, padahal bukan sales yang maksa suruh beli dagangan.

Memang ada beberapa media yang pasang iklan agresif; di mana-mana ada, pojok layar, mau scroll muncul video iklan pop-up. Nah, kalau kaya gitu tinggalkan saja, masih banyak media yang pasang iklan wajar.

Media atau situs yang pasang iklan agresif itu tidak bisa disalahkan begitu saja karena itu juga buat gaji jurnalis, auditor, dan tim media. Selama bukan iklan ilegal, malware, obat kuat, obat panu, dan "lendir" mah sabar aja kalau sudah sayang atau fans berat sama medianya.

1. Ilusi Robin Hood: Kita Gak Nyuri dari Orang Kaya 🏹

Logikanya gini: Google dan BigTech itu duitnya Triliunan. Kalau kita blokir iklan, Google cuma "geli-geli basah". Tapi buat Blogger/Penulis Independen/Media Kecil yang berpegang teguh jika pendapatan iklan itu adalah NYAWA, maka pengguna AdBlocker itu seperti maling atau perampokan di siang bolong yang masih ada penghuni di dalam rumah. Kebayang kan sadisnya?

"Kalau kalian baca tulisan ini tapi iklannya diblokir, itu sama aja kayak kalian makan Nasi Padang, kenyang, terus kabur gak bayar sambil bilang: 'Gue gak suka warna cat tembok restorannya, jadi gue gak mau bayar!'","Itu bukan Robin Hood, Sob. Itu sama saja kayak makan Nasi Padang tapi kabur gak bayar. Itu namanya MALING."

Itu bukan Robin Hood, Sob. Maaf kata, secara sosiologis itu adalah mentalitas Benalu.

2. Kenapa Konten Internet Sekarang Isinya Sampah? 🗑️

Pernah ngeluh gak sih?

  • "Kok berita sekarang judulnya heboh tapi isinya zonk?"
  • "Kok artikelnya hasil copy-paste doang?" (Copas berjamaah)
  • "Kok satu halaman depan isinya sama semua?"
  • "Kok isinya tulisan Robot AI semua?"
  • "Kok kontennya cuma diubah tanggal dan tahun doang padahal isinya sama?" (Zombie Konten)

Jawabannya: GARA-GARA ADBLOCK KALIAN SENDIRI.

Karena pendapatan iklan hancur, penulis bagus gak punya dana operasional buat riset. Akhirnya mereka diganti sama penulis "kejar tayang" yang bikin 1.000 artikel sampah dalam semalam.

Dulu bikin candi dibantu Jin Botol, sekarang bikin 1.000 artikel dibantu Jin AI dalam HP.

Ironis sih tapi itu fakta internet. Google tiap bulan bersih-bersih konten yang dibuat bantuan "Jin AI" tapi itu bukan solusi, mereka akan buat lagi akun baru. Siklus ini akan terus terjadi sampai para pengguna AdBlock insaf permanen.

3. Data Ilmiah: "Ilusi Robin Hood"

Dalam jurnal yang baru saja kami rilis, kami menyebut fenomena ini sebagai "The Robin Hood Illusion". Maunya dapet layanan Premium (Info valid, riset hukum, data akurat), tapi mentalnya nggak mau modal.

Di dalam riset kami, menemukan data asumsi bahwa mayoritas pengguna AdBlock justru dari kalangan menengah atas yang ngakunya "melek teknologi". Memang benar sih kata lagu lama: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Berasa nostalgia.


KESIMPULAN: JADILAH NETIZEN BUDIMAN

Artikel ini bukan nyuruh kalian matikan AdBlock buat situs judi atau situs "lendir pemersatu bangsa", TIDAK. Blokir aja itu mah!

Tapi buat situs-situs edukasi (termasuk Hucer Indo, KunciPro & Situs bermanfaat lainnya), tolonglah... Whitelist (Daftar Putih) situs kami.

Biarkan kami hidup dari iklan receh itu, supaya kami bisa terus nulis konten "daging" buat kalian.

🎥 Tonton Ringkasannya (2 Menit):

Sumber: KunciPro Media TV

📚 REFERENSI JURNAL ILMIAH Zenodo Repository

Analisis Yuridis-Sosiologis Fenomena AdBlock: Studi Kasus Degradasi Kualitas Informasi

👥 Penulis: Tim Riset Hucer Indo & TL Hakim
📅 Terbit: Januari 2026 (Vol. 1, Issue 1)
🔗 DOI: 10.5281/zenodo.18269083
Logo KunciPro

Tri Lukman Hakim, S.H.

Founder KunciPro Research Institute

📥 DOWNLOAD JURNAL RESMI (PDF)
Logo Hucer Indo

Tim Redaksi Hucer Indo | Speak Truth to Power, Santuy to People.